Perkebunan Sawit dan Pertanian Rakyat Sekadau: Roda Ekonomi Kabupaten Berpenduduk 227 Ribu
Perkebunan sawit dan pertanian rakyat jadi tulang punggung ekonomi Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, yang berpenduduk 227.055 jiwa.
Poin Penting
- Kabupaten Sekada ibu kotanya di Kecamatan Sekadau Hilir, Provinsi Kalimantan Barat.
- Penduduk Sekadau semester I 2025 tercatat 227.055 jiwa.
- Sawit dan pertanian rakyat menjadi sektor utama mata pencaharian masyarakat Sekadau.
- Lahan perkebunan dan perkebunan kecil tersebar di seluruh kecamatan di wilayah kabupaten ini.
- Jalur darat menghubungkan Sekadau dengan kota-kota lain di Kalimantan Barat.
Sawit Menjadi Punggung Penghidupan
Pagi di salah satu desa di Kecamatan Sekadau Hilir, warga berangkat ke kebun membawa egian dan garu. Aktivitas ini berulang setiap hari. Buah sawit yang sudah masak dipotong, diangkut dengan truk kecil, lalu dibawa ke penampungan terdekat. Hasilnya jadi sumber utama penghasilan rumah tangga.
Kebun sawit rakyat kini mendominasi bentang pertanian Sekadau. Perkebunan besar milik perusahaan juga hadir, tetapi luas garapan petani kecil lebih tersebar. Satu keluarga bisa memiliki dua hingga lima hektar. Dari situ, uang sekolah anak, biaya pengobatan, dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi.
Harga TBS (tandan buah segar) fluktuatif. Saat harga naik, pedagang di pasar tradisional Sekadau merasakan daya beli yang meningkat. Saat turun, pengeluaran masyarakat ikut tertekan. Ketergantungan ini jadi kenyataan yang tak bisa diabaikan.
Pertanian Rakyat di Tengah Lahan Gambut dan Darat
Selain sawit, warga Sekadau menanam padi di lahan rawa dan ladang. Padi ladang masih dikerjakan secara turun-temuran di daerah yang lebih terpencil. Sayuran seperti kangkung, timun, dan cabai tumbuh di pekarangan atau lahan sempit dekat rumah.
Karet menjadi komoditas lama yang belum sepenuhnya ditinggalkan. Beberapa keluarga di kecamatan seperti Belitang Hilir dan Belitang Hulu masih menyadap karet di sela waktu mengurus sawit. Namun, harga karet yang lama stagnan membuat banyak petani beralih total ke kelapa sawit.
Lahan gambut yang luas di Sekadau memberi tantangan tersendiri. Musim kemarau panjang membuat lahan kering dan rawan kebakaran. Saat musim hujan, beberapa jalan desa rusak dan sulit dilalui. Petani menghadapi ini dengan pola tanam dan jadwal panen yang disesuaikan kondisi cuaca.
Jalan Ekonomi yang Belum Rata
Hubungan antara Sekadau dan kota besar seperti Pontianak masih bergantung pada jalur darat. Jarak tempuh yang jauh membuat biaya distribusi hasil pertanian membengkak. Keluhan soal jalan rusak sering terdengar dari petani yang harus mengangkut hasil panen ke titik jual.
Keterbatasan akses ini berdampak pada harga. Hasil panen dari desa terpencil sering kali dibeli tengkulak dengan harga rendah. Petani pun terima karena tidak punya pilihan lain. Koperasi pertanian yang bisa jadi penghubung masih terbatas jangkauannya.
Infrastruktur penyimpanan dan pengolahan juga minim. TBS yang sudah dipanen harus segera dijual karena fasilitas penyimpanan dingin nyaris tidak ada di tingkat petani. Nilai tambah dari pengolahan lanjut—seperti minyak goreng sawit—dinikmati pihak lain di luar Sekadau.
Tonton Video
Sering Ditanyakan
Berapa jumlah penduduk Sekadau saat ini?
Pada semester pertama 2025, jumlah penduduk Sekadau sebanyak 227.055 jiwa.
Di mana ibu kota Kabupaten Sekadau?
Ibu kota Sekadau berada di Kecamatan Sekadau Hilir.
Apa komoditas pertanian utama di Sekadau?
Kelapa sawit adalah komoditas utama, diikuti karet, padi, dan sayuran yang dikelola petani rakyat.
Apa yang jadi tantangan utama petani sawit rakyat di Sekadau?
Harga TBS yang fluktuatif, jalan darat yang rentan rusak, dan keterbatasan akses ke pasar besar menjadi tantangan utama.