SSekadau Sorot
Budaya dan Adat Istiadat Masyarakat Sekadau

Keberagaman Etnis Sekadau: Akulturasi Dayak, Melayu, dan Jawa di Perbatasan Kapuas

Di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, tiga etnis besar—Dayak, Melayu, dan Jawa—hidup berdampingan di sepanjang aliran Kapuas. Akulturasi budaya ini terasa dalam kehidupan sehari-hari, dari bahasa hingga kuliner.

Keberagaman Etnis Sekadau: Akulturasi Dayak, Melayu, dan Jawa di Perbatasan Kapuas

Poin Penting

  • Sekadau merupakan kabupaten di Kalimantan Barat dengan ibu kota di Kecamatan Sekadau Hilir
  • Jumlah penduduk Sekadau pada semester pertama 2025 sebanyak 227.055 jiwa
  • Tiga etnis dominan di Sekadau adalah Dayak, Melayu, dan Jawa hasil transmigrasi
  • Letak Sekadau di aliran Sungai Kapuas memengaruhi pola interaksi antaretnis
  • Akulturasi terlihat dari percampuran bahasa, makanan, dan tradisi perkawinan lokal

Pagi di Pasar Sekadau Hilir

Pukul enam pagi, pasar di Kecamatan Sekadau Hilir sudah ramai. Ibu-ibu berbelanja bahan makanan sambil bercakap campur antara bahasa Melayu Pontianak dan Jawa Ngoko. Di sebuah warung, sepiring lontong sayur disajikan bersama sambal yang rasanya lebih pedas dari biasa—campuran selera Melayu dan Jawa. Pemilik warung, seorang perempuan keturunan Jawa, sudah dua puluh tahun menjual makanan ini. Pelanggannya beragam: dari petani Dayak, pedagang Melayu, hingga pegawai pemerintah yang pindah dari Pulau Jawa. Di sinilah Sekadau terasa bukan sekadar nama kabupaten di peta Kalimantan Barat, tetapi ruang hidup yang nyata bagi lebih dari dua ratus ribu jiwa dari berbagai suku.

Tiga Akar Budaya di Satu Wilayah

Sekadau secara administratif merupakan kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat. Ibu kotanya berada di Kecamatan Sekadau Hilir. Pada semester pertama 2025, jumlah penduduknya tercatat sekitar 227.055 jiwa. Di angka itu tersimpan keragaman yang tidak bisa dihitung dengan statistik saja. Etnis Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan telah lebih dulu menghuni daerah aliran Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya. Mereka tinggal di desa-desa sepanjang hulu, mempertahankan kearifan lokal seperti ladang berpindah dan kerajinan anyaman. Etnis Melayu kemudian hadir sebagai bagian dari kesultanan di pesisir Kalimantan Barat, membawa tradisi maritim dan perdagangan yang menetap di sekitar hilir Kapuas. Suku Jawa datang kemudian melalui program transmigrasi pemerintah sejak dasawarsa 1970-an hingga 1980-an, membuka lahan pertanian di daerah transmigrasi Sekadau. Mereka membawa cara bertani padi sawah, kesenian seperti wayang kulit dan campur sari, serta tradisi selamatan yang kemudian berpadu dengan adat setempat. Tiga kelompok besar ini—Dayak, Melayu, dan Jawa—kini menjadi tulang punggung kehidupan sosial Sekadau.

Kapuas Sebagai Penghubung, Bukan Pembatas

Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Kalimantan, membelah wilayah Sekadau. Bagi masyarakat setempat, sungai ini bukan sekadar geografi tetapi urat nadi kehidupan. Perahu-perahu kecil dan kapal cepat menjadi alat transportasi utama menghubungkan desa di hulu dengan pasar di hilir. Di sinilah interaksi antaretnis terjadi secara alami. Nelayan Melayu berdagak hasil tangkapan ke desa-desa Dayak di hulu. Petani Jawa mengirim sayuran ke pasar Sekadau Hilir. Anak-anak dari berbagai etnis bersekolah bersama di sekolah negeri yang sama. Akulturasi tidak datang dari kebijakan pemerintah, melalui pergaulan sehari-hari di tepian sungai. Dalam perkawinan campur, misalnya, tidak jarang keluarga Dayak yang beralih menggunakan bahasa Jawa di rumah karena menantu dari Jawa, atau keluarga Jawa yang mengadopsi tradisi Melayu dalam upacara pernikahan anaknya. Bahasa Melayu Pontianak menjadi bahasa pergaulan sehari-hari yang menyatukan semua etnis, meskipun masing-masing kelompok tetap menjaga bahasa ibu di lingkungan keluarga.

Warisan yang Bertahan dan yang Berubah

Di bidang kuliner, akulturasi terasa nyata. Makanan berbahan bumbu kuning khas Melayu sering disajikan dengan cara penyajian Jawa, lengkap dengan lalapan dan sambal terasi. Sementara itu, bahan-bahan hutan seperti daun dan umbi-umbian yang biasa digunakan masakan Dayak mulai masuk ke dapur rumah makan milik etnis lain. Dalam seni pertunjukan, tarian Dayak yang biasanya dipentaskan pada upacara adat kadang digiring dengan iringan musik gamelan khas Jawa di acara-acara hiburan umum. Namun, perubahan juga membawa tantangan. Generasi muda di Sekadau mulai jarang menggunakan bahasa daerah Dayak atau Melayu dialek setempat. Pengaruh media sosial dan budaya populer mempercepat pergeseran ini. Beberapa komunitas adat dan kelompok sadar budaya mulai menginisiasi pelatihan bahasa dan seni tradisional di sekolah-sekolah dasar, agar akar budaya tidak terputus sama sekali. Upaya ini masih kecil dan menghadapi kendala dana serta tenaga, tetapi setidaknya menunjukkan kesadaran bahwa keragaman Sekadau adalah aset yang perlu dijaga.

Tonton Video

Sering Ditanyakan

Berapa jumlah penduduk Sekadau saat ini?

Pada semester pertama 2025, jumlah penduduk Sekadau tercatat sekitar 227.055 jiwa.

Apa saja etnis yang mendominasi di Sekadau?

Tiga etnis utama di Sekadau adalah Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan, Melayu yang berasal dari tradisi pesisir, dan Jawa yang datang melalui program transmigrasi.

Di mana ibu kota Kabupaten Sekadau?

Ibu kota Sekadau berada di Kecamatan Sekadau Hilir.

Bagaimana akulturasi budaya terwujud dalam kehidupan sehari-hari di Sekadau?

Akulturasi terlihat dari percampuran bahasa pergaulan, kuliner yang menggabungkan bahan dan bumbu dari berbagai tradisi, serta adaptasi dalam upacara adat dan perkawinan campur antaretnis.